MAKASSAR, FAJAR -- Tomcat kini tak hanya ada di daerah Jawa, khususnya Kota Surabaya dan sekitarnya. Di Makassar, serangga yang cukup populer belakangan ini karena menjadi perbincangan di tingkat nasional, juga sudah ditemukan. Setidaknya, dua kawasan menjadi sampelnya, yakni Makassar bagian Timur dan Barat.
Dua hari lalu, seorang warga bernama Edwin, 40 tahun, menemukan tomcat di rumahnya saat sedang bersantai. Tomcat tersebut tanpa sengaja terlihat olehnya di lantai rumahnya yang terbuat dari ubin atau tegel putih. Ia awalnya tak percaya jika serangga itu tomcat. Anggota keluarganya lalu meributkan hal tersebut dan tetangganya pun berdatangan untuk menyaksikannya.
Edwin yang tinggal di Taman Kayangan Jalan Telaga Biru, lalu melakukan verifikasi mandiri secara manual terhadap serangga tersebut. Ia dibantu oleh angotta keluarganya, serta jurnalis yang datang ke rumahnya untuk meliput temuannya itu. Hasilnya, berdasarkan ciri-ciri fisik dan gerak-geriknya, serangga itu disimpulkan oleh mereka sebagai tomcat.
"Tidak ada bedanya dengan ciri-ciri tom cat yang ada di Surabaya. Saya sudah bandingkan bersama tetangga-tetangga dan bentuknya mirip persis. Mulai dari ekor, perut, hingga kepalanya," ujar Edwin kepada FAJAR, Minggu, 25 Maret.
Edwin menceritakan, di kawasan tempatnya tinggal, yakni di Taman Kayangan, memang masih terdapat banyak lahan kosong yang hanya ditumbuhi semak-belukar. Karena kemilau cahaya pada malam hari, tomcat tersebut lalu mendatangi rumah Edwin. Beruntung, kata dia, tak ada anggota keluarganya yang tersengat atau pun menjadi korban oleh serangga yang cairan tubuhnya mengandung racun yang sangat berbahaya bagi kulit dan sistem pernapasan tersebut.
Di Tamanlanrea, khususnya di sekitar kampus Unhas, serangga yang diduga tomcat juga ditemukan oleh salah seorang mahasiswi yang meminta namanya tidak ditulis. Ia bahkan telah menjadi korban tomcat. Dua hari lalu ia terpaksa harus berususan dengan dokter spesialis kulit karena di kulitnya muncul benjolan-bejolan lalu melepuh. Ada dua bagian yang terkena, yaitu leher dan tangannya.
Dugaan penyakit kulit yang dideritanya akibat serangan tomcat, karena saat ia sedang tidur, ia merasa ada serangga yang merayap di lehernya. Tanpa berpikir panjang, mahasiswi yang kini semester delapan tersebut, menepuk serangga tersebut. Keesokan harinya, benjolan-benjolan berisi cairan, muncul di leher dan lengannya. Karena kondisinya semakin parah, ia lalu memutuskan untuk memeriksakannya ke dokter spesialis kulit.
Dokter, kata dia, menyarankan agar tidak menggarutnya. Ia diminta menyiraminya dengan air mengalir agar racun yang tertinggal di kulitnya bisa terhanyut. Berselang dua hari kemudian, pada malam hari ia menemukan serangga yang bentuknya sangat mirip dengan tomcat yang ada di Surabaya. Ia lalu meyakini jika di kawasan kos-kosannya di sekitar Kampus Unhas, terdapat tomcat.
Di sekitar tempat tinggalnya memang masih terdapat lahan yang hanya ditumbuhi semak belukar. Kamarnya yang kebetulan berada di lantai dua, sangat dekat dengan lampu jalan. Diduga, karena paparan cahaya lampu itu sehingga tomcat tersebut masuk ke kamarnya
Dua hari lalu, seorang warga bernama Edwin, 40 tahun, menemukan tomcat di rumahnya saat sedang bersantai. Tomcat tersebut tanpa sengaja terlihat olehnya di lantai rumahnya yang terbuat dari ubin atau tegel putih. Ia awalnya tak percaya jika serangga itu tomcat. Anggota keluarganya lalu meributkan hal tersebut dan tetangganya pun berdatangan untuk menyaksikannya.
Edwin yang tinggal di Taman Kayangan Jalan Telaga Biru, lalu melakukan verifikasi mandiri secara manual terhadap serangga tersebut. Ia dibantu oleh angotta keluarganya, serta jurnalis yang datang ke rumahnya untuk meliput temuannya itu. Hasilnya, berdasarkan ciri-ciri fisik dan gerak-geriknya, serangga itu disimpulkan oleh mereka sebagai tomcat.
"Tidak ada bedanya dengan ciri-ciri tom cat yang ada di Surabaya. Saya sudah bandingkan bersama tetangga-tetangga dan bentuknya mirip persis. Mulai dari ekor, perut, hingga kepalanya," ujar Edwin kepada FAJAR, Minggu, 25 Maret.
Edwin menceritakan, di kawasan tempatnya tinggal, yakni di Taman Kayangan, memang masih terdapat banyak lahan kosong yang hanya ditumbuhi semak-belukar. Karena kemilau cahaya pada malam hari, tomcat tersebut lalu mendatangi rumah Edwin. Beruntung, kata dia, tak ada anggota keluarganya yang tersengat atau pun menjadi korban oleh serangga yang cairan tubuhnya mengandung racun yang sangat berbahaya bagi kulit dan sistem pernapasan tersebut.
Di Tamanlanrea, khususnya di sekitar kampus Unhas, serangga yang diduga tomcat juga ditemukan oleh salah seorang mahasiswi yang meminta namanya tidak ditulis. Ia bahkan telah menjadi korban tomcat. Dua hari lalu ia terpaksa harus berususan dengan dokter spesialis kulit karena di kulitnya muncul benjolan-bejolan lalu melepuh. Ada dua bagian yang terkena, yaitu leher dan tangannya.
Dugaan penyakit kulit yang dideritanya akibat serangan tomcat, karena saat ia sedang tidur, ia merasa ada serangga yang merayap di lehernya. Tanpa berpikir panjang, mahasiswi yang kini semester delapan tersebut, menepuk serangga tersebut. Keesokan harinya, benjolan-benjolan berisi cairan, muncul di leher dan lengannya. Karena kondisinya semakin parah, ia lalu memutuskan untuk memeriksakannya ke dokter spesialis kulit.
Dokter, kata dia, menyarankan agar tidak menggarutnya. Ia diminta menyiraminya dengan air mengalir agar racun yang tertinggal di kulitnya bisa terhanyut. Berselang dua hari kemudian, pada malam hari ia menemukan serangga yang bentuknya sangat mirip dengan tomcat yang ada di Surabaya. Ia lalu meyakini jika di kawasan kos-kosannya di sekitar Kampus Unhas, terdapat tomcat.
Di sekitar tempat tinggalnya memang masih terdapat lahan yang hanya ditumbuhi semak belukar. Kamarnya yang kebetulan berada di lantai dua, sangat dekat dengan lampu jalan. Diduga, karena paparan cahaya lampu itu sehingga tomcat tersebut masuk ke kamarnya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar