Taman Purbakala Cipari terletak di Kelurahan Cipari, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, Propinsi Jawa Barat. Ketinggian dari permukaan laut 661 meter, berada di kaki Gunung Ciremai dan jaraknya dari Ibu Kota Kuningan sekitar 4 km. Taman purbakala Cipari di Kab. Kuningan merupakan salah satu obyek wisata yang memiliki nilai sejarah. Sebuah museum tempat penyimpanan benda-benda terbuat dari batu yang diresmikan oleh Menteri P dan K RI Prof. Dr. Syarif Tayeb 23 Pebruari 1978.
Luas Taman Purbakala Cipari adalah 7.000 meter persegi dan terdiri dari taman luas yang dikelilingi oleh tembok batu setinggi 2 meter. Luas tamannya sendiri adalah 2.500 meter persegi. Sisanya dijadikan tempat parkir, halaman lainnya, gedung yang memuat diorama-diorama proses penemuan kapak batu pertama, sakrofafus, hingga yang paling akhir sebuah guci yang ditemukan tahun 2008.
Kabupaten Kuningan yang berbatasan dengan daerah Cirebon, memang banyak ditemukan tanda- tanda pemukiman kuno. Berdasarkan penelitian sekitar tahun 3500 Sebelum Masehi telah ada kehidupan. Bukti sejarah adanya kehidupan manusia primitif (purba) banyak diketemukan dikaki lereng- lereng gunung Ciremai sebelah timur, termasuk dusun Cipari. Di dusun inilah dibangun sebuah museum berciri khas arsitektur lama menghiasi areal Taman Purbakala Cipari seluas 7000 M2 yang dikelilinggi tembok batu setinggi 2 Meter, menambah indahnya kawasan sejuk dan tenang di kaki Gunung Ciremay ini.
Sejarah
Semula, kawasan taman ini milik bapak Wijaya yang secara kebetulan beberapa waktu lalu menemukan batu. Batu peti zenasah yang dipamerkan pada kegiatan pameran kepurbakalaan yang diselenggarakan oleh P. Djatikusumah sebagai Ketua Team Survey Sejarah Kepurbakalaan Kab. Kuningan, berlangsung digedung Tri Panca Tunggal tahun 1971. Kegiatan ini mendapat dukungan budayawan seperti Drs. Uka Candrasasmita dan Teguh Asmar, MA seorang arkeolog dari Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional.Berdasarkan hasil survey ternyata dikawasan tersebut banyak .
Semula, kawasan taman ini milik bapak Wijaya yang secara kebetulan beberapa waktu lalu menemukan batu. Batu peti zenasah yang dipamerkan pada kegiatan pameran kepurbakalaan yang diselenggarakan oleh P. Djatikusumah sebagai Ketua Team Survey Sejarah Kepurbakalaan Kab. Kuningan, berlangsung digedung Tri Panca Tunggal tahun 1971. Kegiatan ini mendapat dukungan budayawan seperti Drs. Uka Candrasasmita dan Teguh Asmar, MA seorang arkeolog dari Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional.Berdasarkan hasil survey ternyata dikawasan tersebut banyak .
Di museum ini terdapat pula gerabah misalnya kendi, kendil, jembaran tempat sayur, kekep, buli- buli, batu obsidian, bokor dan lain- lain disimpan tertata rapi dan aman. Kini dilengkapi benda-benda hasil temuan dari tempat lain yang sengaja ditampung di Museum Purbakala Cipari Kuningan. Dari bukti bukti sejarah bahwa sejak zaman batu sudah ada kehidupan. maka masarakat Kuningan umumnya telah berbudaya tinggi sejak dulu.
Selain di kawasan kebun Wijaya, ditemukan pula benda-benda purbakala di beberapa daerah lain di Kuningan seperti desa Cibuntu Kec. Pasawahan, dari Cangkuang dan Bungkirit Kec Kuningan, Panawarbeas, Ciacra, Sagarahiang, dan Mayasih Cipari Cigugur. Semuanya ini telah ditampung di museum tersebut.
Benda-benda kebudayaan neolitik dan megalitik hasil temuan tersebut menunjukan peri kehidupannya yang sudah agak maju serta mencapai tingkat kebudayaan yang relatif tinggi. Peradapan dan kebudayaan ini berkembang terus dan diresapi kebudayaan india. Hal ini terlihat dari bekas- bekas peninggalan di bukit Sagarahian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar