Jalan setapak menggaris
dengan tepi terjal tak berwarna
jalur-jalur sebagai pembatas gerak
seperti aku berlari dan merangkak
Air hitam itu memenuhi tepian jalan
muntah oleh miringnya rencana
kaca-kaca pecah berantakan
menepi, langkahi arti hidup dan mati
Laju kecepatan terus beringsut
penuhi dada ini -- membusung --
terus membusung, tak reda rongga tersengal
-- terbatas -- demi kuasai lajur kecil ini
Di sini hanya bentakan dan rintihan
yang ada
kamus praktis telah menjadi pedoman
Jauh, jauh dari lambaian nyiur
hanya aspal bebal yang akan terus menggerus
Tidak ada komentar:
Posting Komentar